|
Jakarta, Segala puji bagi Allah SWT. Alhamdulillahilladzi
liyadzadu iimaanan maa 'aimaanihim. Sholawat dan salam semoga tercurah selalu
bagi Rasulullah panutan kita, yang membangunkan dan menuntun hati nurani kita,
menjadi cahaya bagi segala perbuatan mulia.
Setiap orang pasti pernah mengalami saat-saat
sulit dalam menjalani kehidupannya. Kadang kesulitan itu memang membuat
seseorang frustasi, bingung, stres, panik, putus asa dan sikap negatif lainnya.
Namun hal ini hanya terjadi pada kebanyakan orang yang hidupnya jauh dari
tuntunan Al-Qur`an. Jauhnya mereka dari tuntunan Al Qur'an menyebabkan mereka
gampang gelisah, tegang, dan marah. Mereka menjalani kehidupan ini dengan beban
masalah dan tekanan batin yang luar biasa beratnya, sehingga menjauhkan mereka
dari kebahagiaan hidup.
Bangsa kita tengah mengalami ujian. Kita tahu,
belum lama ini masyarakat mengalami dampak dari berbagai kebijakan pemerintah
yang malah semakin menyulitkan masyarakat miskin. Kenaikan BBM, langkanya
minyak tanah, gas. Belum lagi harga-harga bahan pokok yang melambung naik.
Ditambah lagi angka kriminalitas yang semakin meningkat.Masyarakat seakan kehilangan moral dan pegangan
hidup. Bahkan alih-alih bertahan dari “kerasnya” kehidupan sehingga
menghalalkan segala cara. Yang haram jadi halal dan yang halal jadi semakin
sulit di raih.
Seorang mukmin tentu berbeda dalam menyikapi
berbagai kesulitan hidup yang dihadapinya.Mereka memahami bahwa kesulitan atau
ujian diberikan oleh Allah dalam rangka menguji hamba-Nya. Dan mereka tahu
bahwa kesulitan itu dibuat untuk membedakan antara mereka yang benar-benar
beriman dan mereka yang memiliki penyakit di hatinya, yaitu mereka yang tidak
tulus dalam meyakini keimanan mereka. Karena itu, ujian atau kesulitan yang
hadir dalam kehidupan kita akan menunjukkan siapakah kita sebenarnya.
Allah menjelaskan melalui firman-Nya, bahwa Dia akan menguji manusia untuk
melihat siapakah yang benar-benar beriman.
"Apakah
kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum nyata bagi Allah
orang-orang yang berjihad di antaramu, dan belum nyata orang-orang yang
sabar." (Ali Imran: 142)
"Allah
sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kamu
sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dari yang baik
(mukmin)...."(al-Baqarah: 179)
Ketika membaca terjemahan ayat tersebut,
hendaknya semakin menambah kesadaran kita bahwa kehidupan ini memang dipenuhi
dengan aneka masalah dan berbagai kesulitan. Karena dunia ini merupakan Darut
Taklif, maksudnya adalah tempat pembebanan. Tidak ada seorang pun yang
terbebas dari masalah selama mereka hidup di dunia. Dan sungguh merugi orang
yang larut dalam kesedihan, kesedihan yang panjang justru akan semakin
menyulitkan diri dalam menghadapi masalah. Hanya dengan keberanian untuk
bangkit dan bersabar, kesulitan itu akan terasa mudah. Berbahagialah orang yang
mampu bersabar dalam menghadapi setiap kesulitan hidup, karena Allah beserta
orang-orang yang sabar.
Bangsa kita sesungguhnya dikaruniai Allah potensi
yang begitu dahsyat, yang jika disyukuri dengan cara mengelolanya dengan tepat,
niscaya berpeluang menjadi negara besar yang berwibawa dan bermartabat. Dengan potensi sumber daya alam yang melimpah
ruah baik berupa daratan, lautan serta apapun yang terkandung didalamnya;
maupun lokasi geografis dan keindahan alam, negeri kita bagaikan percikan surga
yang tertetes di dunia.Potensi manusia dengan jumlah dua ratus duapuluh
juta lebih dengan aneka kemampuannya, merupakan aset berharga jika disinergikan
dengan formula yang tepat.�
Dan aset yang tidak ternilai harganya adalah
sumber keyakinan bagi mayoritas penduduk
Indonesia, yaitu aqidah Islam yang
diyakini bersama sebagai agama yang paripurna, rahmatan lil `alamiin, yang
dapat menjadi solusi yang universal. Namun, bila kita melihat kenyataan,
ternyata semua potensi seakan-akan tidak berbuah kenyataan yang dicita- citakan
bersama. Bahkan, aneka bala dan musibah dari berbagai sisi kehidupan begitu
lekat dan memilukan.
Sudah kita dengar bersama upaya untuk menyehatkan
dan mensejahterakan masyarakat, namun kita wajib mengevaluasi hal-hal pokok
yang menjadi kunci permasalahan.
Masyarakat kita relatif berbadan sehat, juga
berpikir normal, bahkan sebagian ada yang berfisik sangat kuat dan berotak
cerdas. Hanya sedikit masyarakat yang berpenyakit lahir dan ia juga berpenyakit
akal. Rupanya yang sedang berjangkit di negara kita secara umum, justru
penyakit qolbu/hati nurani. Karena orang yang kuat dan cerdas akal pikirannya,
yang tidak sehat qolbunya ternyata mereka itulah yang menjadi biang-biang
kerusakan dan kesengsaraan bagi bangsa ini. Dengan kata lain, kelemahan bangsa
kita ini adalah belum sungguh-sungguh memprogram untuk menghidupkan dan
membangkitkan kekuatan nurani yang akan menuntun akal pikiran, sikap dan
tingkah laku menjadi penuh nilai kemuliaan dan kehormatan yang hakiki, karena
qolbu adalah inti terpenting dari manusia yang akan mengatur segala sikapnya.
Sabda Rasulullah:
"Alaa
inna fil jasad mudhgoh Idza soluhat soluha jazadukuluhu Waidza fasadat fasada
jasadukuluhu Alaa wa hiyal qolbu"
"Ingatlah, dalam tubuh manusia itu ada
segumpal daging. Kalau segumpal daging itu baik, maka akan baiklah seluruh
tubuhnya. Tetapi, bila rusak, niscaya akan rusak pula seluruh tubuhnya.
Segumpal daging itu bernama qolbu." (HR. Bukhari Muslim)
Dan sumber kerusakan ini menurut Rasulullah
adalah: Dapat diperkirakan bahwa kamu akan diperebutkan oleh bangsa-bangsa lain
sebagaimana orang-orang berebut melahap isi mangkok.
Para
sahabat bertanya, "Apakah pada saat itu jumlah kami sedikit ya Rasulullah?"
Beliau menjawab, "Tidak, bahkan saat itu jumlah kalian banyak sekali,
tetapi seperti buih air bah dan kalian ditimpa penyakit wahn". Mereka
bertanya lagi, "Apakah penyakit wahn itu ya Rasulullah?", beliau
menjawab "Hubbud dunya (kecintaan yang amat sangat kepada dunia ) dan
takut mati".� HR Abu Dawud
Gejalanya bisa kita lihat dari tingkah polah
dalam memperebutkan duniawi ini (harta, kedudukan, kekuasaan, popularitas,
kesenangan duniawi, gelar, pangkat, jabatan yang ditujukan hanya untuk kepuasan
dunia belaka), tidak sedikit orang yang menghalalkan cara-cara tak terpuji
sehingga mendzolimi hak-hak orang lain. Bagi yang telah mendapatkannya, juga
melakukan perbuatan yang tak mulia yaitu dengan gemar pamer kemewahan, hidup
dengan biaya tinggi, menjadi jalan kecurigaan dan kedengkian bagi yang lain;
dan untuk mempertahankan dunia yang dimilikinya sering pula melakukan tindakan
yang melupakan kepentingan masyarakat. Bagi masyarakat yang ada dalam
keterbatasan, melihat situasi yang materialistis membuat terbuai angan-angannya
sehingga melakukan tindakan yang mencoreng harga dirinya.
Pendek kata, budaya cinta dunia atau
materialistis adalah biang masalah yang beranak-pinak dengan kesombongan,
kemewahan, kedengkian, keserakahan, kezoliman dan bercucu pada permusuhan,
keinginan untuk menghancurkan orang lain, dan akibatnya seperti yang kita
rasakan sekarang ini.
Kita harus mulai membangunkan nurani masyarakat
dengan cara mensosialiksasikan obat penyembuhnya, yaitu membangun hidup mulia
dengan bersahaja, hidup proporsional, tidak berbudaya bersembunyi dibalik
topeng duniawi dan hal ini sangat memungkinkan kita lakukan setidaknya dengan
empat kunci :
1. Suri tauladan yang nyata
Harus menjadi kesadaran para pemimpin bahwa
mereka benar-benar diperhatikan dan ditiru oleh masyarakat. Kita harus
membudayakan memilih para pemimpin yang berani hidup bersahaja dan mengutamakan
kemampuan memimpin dengan adil dan profesional, dibanding dengan orang yang
hanya mampu mempertontonkan kedudukan dan kekayaaannya. Nabi Muhammad SAW
membangun peradaban dengan menjadi suri tauladan yang nyata. Ini harus menjadi
budaya bagi para pemimpin, dengan tidak menyuruh orang lain sebelum menyuruh
dirinya sendiri. Tidak melarang orang lain sebelum melarang diri sendiri. Lebih
banyak berkata dengan karya dan tauladan nyata, daripada hanya berbuat dengan
perkataan.
Masyarakat sesungguhnya sangat tercuri hatinya
kepada para pemimpin yang bisa berbuat banyak, namun amat bersahaja dalam
hidupnya. Pada saat yang sama, masyarakatpun teramat curiga dan dengki kepada
para pemimpin yang hidup glamour, yang mereka yakini semuanya itu adalah uang
rakyat.
2. Pendidikan dan pelatihan, juga
pembinaan secara sistematis berkesinambungan terhadap masyarakat
Perlu kesadaran dan kesepakatan bersama untuk
mendidik segala lapisan masyarakat dengan menggunakan seluruh media yang ada
untuk mengetahui nilai-nilai keutamaan hidup berhati bersih, bernurani dan
hidup tidak materialistis, baik lewat pendidikan di sekolah/kampus, melalui
aneka sinetron film/televisi ataupun radio, untuk mendampingi pendidikan lewat
suri tauladan dari para pemimpin / tokoh panutan masyarakat.
3. Sistem yang kondusif
Kitapun harus bekerja keras untuk membangun
system dalam bentuk undang-undang, aturan-aturan lainnya yang mendukung
perubahan sikap di masyarakat untuk tidak berjiwa materialistis dan sangat
menghargai nilai-nilai kemuliaan ahlak dan moral, dengan cara membuat peraturan
yang benar- benar adil dan konsisten untuk menegakkannya. Nabi Muhammad berlaku
adil terhadap siapapun, termasuk kepada keluarganya sendiri.
Menegakkan supremasi hukum adalah bagian kunci
yang teramat penting untuk membangun harapan di masyarakat, bahwa memburu dunia
tidak dengan cara yang benar, akan mendapatkan hukuman yang setimpal.
Menegakkan hukum dengan adil, tidak dengan kebencian dan dendam, akan membuat
keadilan menjadi sesuatu yang indah dan menjadi tumpuan semua pihak.
Ketidak-seriusan menegakkan sistem yang adil akan
mengundang ketidakpuasan, dan ini akan mengundang pula aneka masalah yang lebih
pelik dan merugikan.
4. Membangun kekuatan ruhiyah
Sebagai orang yang beriman, selalu harus kita
sadari bahwa kita semua hanya sekedar mahluk yang sangat banyak memiliki
keterbatasan, dan Allah-lah yang Maha Kuasa menolong siapapun yang Dia
kehendaki, karena Dia-lah yang menggengam segala masalah dan jalan keluarnya.
Laa haulaa walaa quwwata illa billahil
aliyil'aziim. Maka, harus dicanangkan kebangkitan ruhiyah nasional dengan
memotivasi masyarakat untuk melakukan kebangkitan ibadah dengan benar lebih
intensif. Baik yang fardhu maupun sunah, yang tentu diawali dengan suri teladan
dari semua tokoh panutan dan difasilitasi baik tempat, waktu/kesempatan, dan
dana, agar masyarakat --selain lebih terkendali-- juga doa-doanya mendatangkan
pertolongan Allah seperti yang dijanjikan.
Surat
at Thalaq ayat 23 menyatakan, yang artinya, "Barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan
memberi jalan keluar dari segala urusannya dan memberi rezeki dari tempat yang
tidak disangka-sangka, dan barang siapa yang bertawakal niscaya akan dicukupi
segala kebutuhannya." Amatlah tipis harapan kita akan keluar dengan
baik dari permasalahan ini tanpa bimbingan Allah, karena manusia amatlah
terbatas dalam segalanya, tak mampu berbuat apa pun tanpa izin-Nya.
Penutup
Semoga dengan kombinasi ikhtiar lahir batin, suri
tauladan yang nyata, pola pendidikan dan pembinaan juga sistem yang kondusif
dan ketangguhan dalam ibadah seluruh elemen masyarakat, menjadikan semua
masalah yang ada pada bangsa kita ini akan membuahkan budaya hidup baru yang
benar-benar akan menjadi fondasi bagi masyarakat maju yang beradab.
Yaitu masyarakat yang produktif dalam aktivitas
di dunia, namun didasari dengan niat yang bersih karena Allah, menjalankan
aktivitasnya sebagai ibadah dan diwarnai dengan kebersihan hati, jauh dari
segala kesombongan, riya, kedengkian, cinta dunia atau aneka penyakit hati
lainnya, yang semua ini akan terpancar dari ahlak yang bermutu tinggi di
lapisan manapun mereka berkiprah.
Dan warisan terbesar dari setiap insan yang
diberi amanah adalah kemuliaan pribadi, buah dari kebersihan hati yang
merupakan tanda kesuksesan dan keselamatan kehidupan seorang manusia, yang
lebih tinggi nilainya dari topeng duniawi apapun yang disandangnya sejenak
didunia ini.
Hanya kepada Allah-lah kembalinya segala urusan,
dan hanya Dia-lah yang akan menerima amal, dan tiada pertemuan dengan-Nya
kecuali hanya orang yang berhati bersih dan selamat. Amin.
 |